Kejang

11:58 AM


Hari selasa lalu jadi hari dengan pengalaman buruk yang pernah aku rasain sepertinya. Suddenly hari itu harus menghadapi anak sendiri yang mengalami kejang. Sebelum-sebelumnya menghadapi pasien atau keponakan yang kejang masih tenang walaupun pake degdegan, tetapi begitu menghadapi anak sendiri yang kejang, otak rasanya membeku cuma panik yang ada.

Ini pertama kalinya eisha kejang. Hari itu memang badannya agak sedikit hangat, aku ukur suhunya masih di bawah 38 derajat. Selama ini kalau eisha demam baru aku kasi parasetamol bila suhunya di atas 38 derajat dan selalu aman tidak pernah kejadian sampai kejang. Tapi kemarin, badannya hangat  lalu dia muntah cukup banyak. Aku ganti bajunya dan tidak lama kemudian, dia histeris dan diikuti dengan kejang. Pertama lihat eisha dengan mata mendelik ke atas, aku tidak berpikir itu kejang, tapi begitu aku panggil namanya, tepuk-tepuk pipinya dan dia tidak merespon matanya masih mendelik ke atas badannya kaku, sesekali kaki dan tangannya bergerak aku baru sadar itu kejang.

Begitu melihat eisha seperti itu, yang aku rasa panik. Bagaimana caranya ke RS atau mencari pertolongan obat kejang dan oksigen, karena rumah cukup jauh jaraknya dari RS. Lalu saat itu tidak ada suami atau papa yang bisa mengantar ke RS, yang terjadi malah aku teriak-teriak memanggil mama yang sedang sholat magrib di kamarnya. Qila yang melihat bundanya panik, dengan tenangnya bilang “bunda, ayo kita ke kamar nenek ke atas, bunda ke atas saja” Entah kenapa pas kejadian itu aku bingung tidak bisa naik ke kamar mama. Bingung antara mau cepat-cepat membawa eisha ke RS atau naik ke kamar mama. Yang aku pikirkan bagaimana caranya segera ke RS karena eisha kejang cukup lama. Tadinya aku kira eisha kejang sekitar 5 menit, tapi mamaku bilang sepertinya sekitar 15 menit. Aku kaget juga pas mamaku bilang eisha kejang 15 menit yah.

Semua jadi ikutan panik waktu melihat aku panik dan nangis. Ya ternyata kalut rasanya melihat anak sendiri ga sadarkan diri.  Mamaku yang menghubungi papa ikutan panik sampe beberapa kali memencet nomor hp yang salah. Begitu papaku datang, kita langsung ke RS dan Alhamdulillah eisha sudah menangis. Mamaku cepat-cepat memasukkan baju dan diapers eisha dan ternyata setelah dicek yang dimasukan itu bajunya qila bukan bajunya eisha J

Begitu keluar pagar rumah, ternyata jalanan terlihat macet, makin bikin sedih deh kalau ingat-ingat lagi. Rumah jauh dari segala fasilitas kesehatan begini kalo ada keadaan gawat darurat sungguh bikin degdegan. Tambah menyalahkan bapak bupati karena tidak juga menyelesaikan masalah kemacetan dari jaman aku SD deh.

Di mobil eisha muntah sekali, muntahnya nyemprot sampai lewat hidung lalu anaknya tenang dan tidur. Sampai RS eisha dipakaikan masker oksigen yang tentunya ditolak eisha. Selang oksigennya selalu ditarik hingga terlepas, pas akhirnya bisa dikencangkan dan tidak bisa dilepas eisha, yang ada anaknya manyuun terus :D Rencananya eisha akan dipasang infus, tapi sungguh eisha kuat sekali gerakannya, dua kali tusuk di tangan kanan dan kiri tidak ada yang berhasil. Jadi pemakaian infus ditunda dan akhirnya batal dipasang selama masa observasi di ruang rawat. Hasil pemberontakan pas pasang infus, eisha jadi kehausan dan kita tidak ada yang sadar eisha haus. Baru pas dia kelihatan antusias melihat botol aqua punya pasien lain kita baru sadar eisha kehausan. Begitu dikasi minum, glek  habislah itu ¼ botol aqua J

Anak bayi sipit yang katanya sakit
Masuk ruang rawat jam 10 malam dan ternyata masih mendapat jatah makan dan kebetulan anak bayi ini kelaparan ternyata :D disuapi bubur ayam habis setengah porsi dan setelah itu seolah-olah tidak terjadi apa-apa, pasien bayi ini dengan lincahnya tidak mau berhenti bergerak dan baru sukses tidur jam 1 pagi. Bundanya tepaaaar….

Ternyata kita memang musti piknik di RS selama dua hari yah. Dua hari eisha full sama bunda, bundanya tidak kemana-mana cuma urus eisha di kamar RS.

Sehari sebelum eisha kejang  aku sempet ngetwit “Alhamdulillah dirawat di RS cuma pas hamil dan melahirkan, mudah-mudahan tidak pernah dirawat lagi yah” Ternyata aku lupa walaupun bukan aku yang dirawat lebih menyedihkan kalau anak sendiri yang sakit dan dirawat yang terjadi setelah ngetweet malah masuk RS karena eisha yang harus diobservasi di ruang rawat. Harusnya ngetweeet “Mudah-mudahan semua keluarga dan teman-teman tidak ada yang harus sakit sampai harus dirawat di RS yah” Amiiiin                 

You Might Also Like

2 comments

  1. wah kebayang dah paniknya gimana...
    sekarang udah sehat tapi ya? moga2 eisha sehat2 terus ya...

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah udah sehat maan..amiin thx yah :)

    ReplyDelete